Keserakahan yang MERUSAK

Ketika kita berbicara soal Sumatera akhir akhir ini, yang dimana tanah yang dulu kita kenal dengan hutannya yang luar biasa rimbun, dan sekarang yang kita lihat sangatlah berbeda berubah malah jadi deretan angka keuntungan. Sayangnya, di balik dalih pembangunan, ada satu penyakit yang diam diam menggerogoti dari dalam (keserakahan yang merusak). Kita seolah lupa kalau alam punya kapasitas maksimall, dan kita sudah melampaui batas.

Kita bisa lihat sekarang gimana hutan-hutan primer di Sumatera “ditelan” oleh hamparan sawit. Memang sih, sawit itu mendatangkan banyak uang, tapi ada harga yang harus dibayar, dan ketika pohon-pohon besar itu ditebang habis-habisan, trus diganti sama sawit yang akarnya nggak mampu mencengkeram tanah dengan kuat, menyebabkan sistem pertahanan alam kita jadi runtuh. Dan begitu hujan besar datang, gak ada lagi yang bisa nahan air. Hasilnya? YA Banjir dan tanah longsor yang menjadi berita rutin yang menyedihkan, dan menghancurkan rumah-rumah warga yang sebenarnya gak ikut menikmati hasil hutan yang dikeruk.

Kalau kita selidiki dalam Alkitab, peristiwa ini sebenarnya cerminan dari peringatan bahwa “akar segala kejahatan adalah cinta uang”. Ketika rasa puas itu digantikan oleh ambisi kita untuk memiliki harta, manusia pasti cenderung menjadi buta. Padahal Alkitab mengajarkan kalau kita ini seharusnya menjadi “penjaga kebun,” bukan penghancurnya. Keserakahan inilah yang membuat kita hanya fokus sama apa yang bisa kita ambil hari ini, tanpa memperdulikan kalau kita ini sebenarnya lagi menghancurkan masa depan anak cucu kita sendiri. Kita terlalu sibuk mengejar dunia yang fana ini sampai lupa kalau mandat utama kita adalah merawat ciptaan-Nya, bukan memerasnya sampai kering.

Dan pada akhirnya, semua bencana yang terjadi di Sumatera adalah pengingat yang sangat keras buat kita semua. Alam itu gak bisa disuap, Alam akan selalu jujur mengembalikan apa yang kita berikan. Sesuai dengan hukum tabur tuai, kalau yang kita tanam adalah kerusakan dan eksploitasi tanpa batas, maka yang kita tuai pun adalah kehancuran.

Kesimpulannya sederhana tapi pahit, kalau kita gak segera tobat dari keserakahan yang merusak alam ini, kita cuma tinggal menunggu waktu, sampai alam benar-benar gak sanggup lagi untuk menopang hidup kita.

Leave a Comment